<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPI Syria</title>
	<atom:link href="http://ppisyria.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ppisyria.com</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 19:40:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pernyataan Sikap</title>
		<link>http://ppisyria.com/pernyataan-sikap</link>
		<comments>http://ppisyria.com/pernyataan-sikap#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 08:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PPISyria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppisyria.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Demam Arab Spring juga menggerogoti Suriah, dengan upaya ini kami berharap menetralisir keadaan, semoga...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA (PPI) DAMASKUS SURIAH</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p>Melihat konflik yang terjadi di beberapa tempat di Suriah akhir-akhir ini, maka  kami Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus-Suriah :</p>
<p>A.Mendesak Pemerintah RI untuk lebih serius mempersiapkan segala proses evakuasi bagi seluruh Warga Negara Indonesia ( WNI ) yang berada di Suriah, meliputi :</p>
<p>1.Validitasi data seluruh Warga Negara Indonesia di Suriah, khususnya Tenaga Kerja Wanita non formal.<br />
2.Persiapan Transportasi dan Akomodasi untuk keperluan evakuasi seluruh Warga Negara Indonesia di Suriah.<br />
3.Penanganan dan penyelamatan WNI di daerah konflik.</p>
<p>B.Menyayangkan kebijakan Pemerintah RI terkait penarikan DUBES RI di Damaskus, di tengah situasi konflik di Suriah yang tidak menentu, serta kebutuhan WNI di Suriah terhadap keberadaan DUBES RI.</p>
<p>C.Menyayangkan Pemberitaan berlebihan oleh beberapa media elektronik dan cetak di Indonesia, yang dapat menimbulkan kekhawatiran berlebih pada diri masyarakat Indonesia yang memiliki sanak-famili di Suriah.		</p>
<p>disahkan oleh Evi Fauzi Abdurrazaq (Presiden PPI Damaskus-Suriah) pada tanggal 04 Desember 2011 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppisyria.com/pernyataan-sikap/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasionalisme &amp; Islam</title>
		<link>http://ppisyria.com/nasionalisme-dan-slam</link>
		<comments>http://ppisyria.com/nasionalisme-dan-slam#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 19:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PPISyria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[KAPESDA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ppisyria.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Nasionalisme dan Islam, adakah kontroversi antara keduanya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Prolog</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap individu yang terdapat di muka bumi ini tidak terlepas dari sebuah tempat (baca:negara) dimana ia berintima (berafiliasi) kepadanya, sehingga ia berkewajiban untuk menghormati dan bahkan membelanya dengan segala kemampuannya walaupun harus mengorbankan seluruh jiwa dan raga. Sepetak wilayah tersebut terbatasi dengan batasan-batasan yang telah ditentukan. Dengan demikian, kewajibannya pun terbatas sesuai dengan garis batas tersebut, sehingga ia tidak memiliki wewenang untuk ikut campur dalam setiap permasalahan yang timbul diluar batasan tersebut.<br />
Akan tetapi Islam yang dibawa oleh Sayyiduna Muhammad saw memiliki risalah yang universal, tidak membedakan antara suku, ras, dan daerah (regional). Islam memandang kepada setiap individu dengan kacamata insaniyyah, yakni mereka semua adalah manusia, asal mula mereka adalah manusia yang di kemudian hari berbeda antara satu dengan yang lain selaras dengan perbedaan mereka dalam agama, suku dan daerah. Dari titik inilah perselisihan itu bermula, dimana sebagian ulama berpendapat bahwa dalam nasionalisme dan Islam terdapat sebuah kontraversi yang nyata, sedangkan pihak yang lain menafikan adanya kontraversi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sejarah singkat nasionalisme</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita putar roda waktu untuk kembali pada beberapa masa silam, kita akan dapatkan dalam sejarah bahwa nasionalisme bermula dari benua Eropa sekitar abad pertengahan. Kesadaran berbangsa—dalam pengertian nation-state—dipicu oleh gerakan Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther di Jerman. Saat itu, Luther yang menentang Gereja Katolik Roma menerjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa Jerman dengan menggunakan gaya bahasa yang memukau dan kemudian merangsang rasa kebangsaan Jerman. Terjemahan Injil membuka luas penafsiran pribadi yang sebelumnya merupakan hak eksklusif bagi mereka yang menguasai bahasa Latin, seperti para pastor, uskup, dan kardinal. Implikasi yang sedikit demi sedikit muncul adalah kesadaran tentang bangsa dan kebangsaan yang memiliki identitas sendiri. Bahasa Jerman yang digunakan Luther untuk menerjemahkan Injil mengurangi dan secara bertahap menghilangkan pengaruh bahasa Latin yang saat itu merupakan bahasa ilmiah dari kesadaran masyarakat Jerman. Dalam perkembangannya, nasionalisme barat akhirnya meletakkan kekuasaan kolektif dalam negara lebih utama daripada kemerdekaan individu. Ini bermakna, nasionalisme menjadikan negara sebagai pusat segalanya, dan kepentingan negara lebih tinggi daripada kepentingan lainnya.<br />
Karena permulaan nasionalisme lahir di Eropa dimana tujuan utamanya untuk memisahkan antara agama dan negara, maka bukanlah suatu perkara yang mengherankan jika kita sering mendengar pada akhir-akhir ini sebuah pernyataan adanya kontraversi dalam nasionalisme dan Islam, walaupun sebenarnya –jika kita amati lebih dalam- kontraversi tersebut sedikit banyak dapat dinafikan.<br />
Bertolak dari pengertian nasionalisme yang memusatkan kepada negara atas semangat ras dan etnik maka nasionalisme barat telah mendorong masyarakat Eropa melakukan ekspansi (perluasan) ke wilayah lain melalui aktiviti penjajahan atau imperialism, karena mereka merasa bahwa ras merekalah yang terbaik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Antara Islam dan nasionalisme</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kecanggahan antara nasionalisme dan Islam dalam sejarah masa lampau hampir tidak pernah terdengar, samada di era diutusnya Rasul saw ataupun setelahnya. Umat Islam dalam sejarahnya yang gemilang selalu berada dalam kehidupan yang nyaman dan tenang, walaupun mereka hidup bersama komunitas yang tidak seagama seperti yahudi dan nasrani. Keselarasan tersebut lahir dari adanya kegamblangan sikap dan muamalah (perlakuan) agama Islam terhadap non muslim. Karena mereka tahu bagaimana ajaran Islam akan memperlakukannya dan mereka tahu bahwa setiap muslim kala itu selalu berpegang teguh pada agamanya, dan berusaha untuk mempersembahkan Islam kepada dunia dalam bentuk yang sangat indah sehingga Islam dapat diterima dan bahkan dijadikan sebagai pedoman hidup.<br />
Akan tetapi dewasa ini, perihal tersebut telah menjadi sebuah problem yang cukup rumit dan bahkan telah berubah menjadi bahan perdebatan yang cukup panas untuk dimasak secara matang di atas meja pembahasan. Permasalahan tersebut selalu diulang dan disuarakan hingga timbul dalam fikiran manusia pada hari ini sebuah pertanyaan : &#8221; adakah seorang muslim yang nasionalis?&#8221; atau sebaliknya.<br />
Nasionalisme sendiri berasal dari kata nation yang berarti bangsa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata bangsa memiliki arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang, atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal-usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan; dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan yang biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi. Begitu juga kalimat &#8220;muwathanah&#8221; dalam bahasa arab berakar kepada kalimat &#8220;wathan&#8221;, dan kebanyakan maknanya kembali kepada sesuatu yang berkaitan dengan wilayah dan tempat tinggal.<br />
Dari beberapa makna itu dapat disimpulkan bahwa bangsa adalah kesatuan yang timbul dari kesamaan keturunan, budaya, pemerintahan, dan tempat.<br />
Dalam Encyclopedia Britannicca atau Encyclopedia America dijelaskan bahwa nasionalisme adalah fenomena yang meletakkan kesetiaan dan ketaatan manusia kepada negara, sehingga meletakkan kepentingan negaranya di atas segala kepentingan yang lain samada ianya merupakan kepentingan pribadi ataupun kepentingan perkara yang lain. Dengan kata lain, nasionalisme merupakan ikatan yang berbentuk sekuler –karena kelahirannya dari sebuah revolusi di Eropa- yang menggantikan semua bentuk ikatan yang lain khususnya keagamaan dikalangan manusia terutamanya di Barat yang berasaskan ajaran gereja Kristen.<br />
Melihat dari beberapa definisi tersebut sudah tentu kita dapat menyimpulkan adanya kontraversi antara Islam dan nasionalisme, karena Islam menjunjung tinggi aqidah dan ajarannya, sedangkan nasionalisme lebih menjunjung kenegaraannya. Dan ini merupakan pendapat beberapa ulama&#8217;. Mereka menyatakan hal tersebut dengan berdasarkan kepada argumen-argumen yang akan kita kemukakan berikut ini:<br />
1. Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw kepada seluruh alam,<br />
)وما أرسلناك إلا كافة للناس)<br />
&#8220;Dan Kami tidak mengutusmu kecuali kepada seluruh umat manusia&#8221;.<br />
(وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين)<br />
&#8220;Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam&#8221;. Dengan demikian ajaran ataupun risalah Islam bersifat universal, sedangkan konsep nasionalisme hanya bersifat nasional-lokal.<br />
2. Islam menjunjung tinggi aqidah dan syariah, sedangkan nasionalisme lebih mengutamakan negara, sehingga walaupun terjadi kezaliman dan kerusakan dalam sebuah negara, maka wajib bagi warganya untuk membela. Sedangkan Islam telah mengharamkan segala bentuk kezaliman, sekecil apapun tersebut. Rasul saw bersabda:<br />
(انصر أخاك ظالما أو مظلوما، فقال رجل: يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما، أفرأيت إذا كان ظالما، كيف أنصره؟ قال: أن تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره(<br />
“Dari Watsilah Ibnul Asqa’; saya bertanya kepada Rasulullah saw:. apakah seseorang yang mencintai kaumnya termasuk ashabiyyah? Rasulullah saw menjawab: Tidak, tapi yang termasuk ashabiyyah ialah bila ia menolong kaumnya dalam kezaliman.”<br />
3. Islam mengajarkan umatnya untuk berpegang teguh kepada aqidah dan kepercayaannya, sehingga semua umat Islam di penjuru dunia terikat dengan sebuah ikatan, yaitu ikatan aqidah, dan dari ikatan itu pula umat Islam menjadi bersaudara, walaupun perbedaan suku, ras dan wilayah telah memisahkan mereka. Allah berfirman :<br />
(إنما المؤمنون إخوة (<br />
&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara&#8221;. Fakta telah menyatakan dan mengakui hal tersebut, dimana Abu Bakar ra yang berstatus saudagar arab dapat bersatu dengan Bilal bin Rabah yang hanya seorang hamba sahaya dari negara Ethiopia, begitu juga Salman al-Farisi yang berasal dari negeri Persia bisa berjumpa dengan shahabat Ali bin Abi Thalib, dan masih banyak fenomena yang dapat terlebur didalamnya ras dan suku dalam lembaran sejarah Islam. Sedangkan nasionalisme barat telah tercatat dalam sejarah mereka disaat membedakan orang berkulit putih dari ras lainnya.<br />
4. Dengan ikatan aqidah itu pula Islam dapat melampaui batas-batas wilayah dan negara, sehingga risau umat Islam tidak terbatas hanya dalam wilayahnya saja, akan tetapi mereka akan tetap menolong saudaranya walaupun ia berada diluara garis batasan tersebut. Sedangkan nasionalisme terbatas dengan batasan-batasan tersebut.<br />
5. Selain perbatasan wilayah yang dilewati, Islam yang bertumpu pada aqidah juga tidak terbatas dalam sebuah dimensi waktu, hal itu dikarenakan tali ukhuwah yang telah dijalin antara setiap muslim akan tetap langgeng hingga di akhirat, disaat ikatan nasionalisme hanya terbatas di dunia.<br />
6. Nasionalisme yang saat ini sedang digembor-gemborkan bersifat sekularisme, karena ia menegaskan pemisahan antara agama dan politik, hal tersebut kembali kepada sejarah yang telah mencatat adanya revolusi atas tekanan gereja-gereja di Eropa, maka dari itu mereka berusaha untuk menyingkirkan agama dari kehidupan mereka. Sebaliknya dalam Islam –semenjak berdirinya daulah islamiyah- tidak terdapat sebuah percanggahan antara keduanya, bahkan negara yang dipimpin oleh Rasul saw atau khalifahnya selaras dengan norma-norma agama Islam, sehingga umat Islam lebih memilih untuk selalu berada dibawah naungan agama, lain halnya dengan orang Barat.<br />
7. Islam mewajibkan umatnya untuk hidup dibawah satu kepemimpinan (khilafah islamiyah), dan mengharamkan bagi mereka tercerai berai dibawah pemimpin-pemimpin yang banyak. Rasul saw bersabda:<br />
<strong> ( إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهما )</strong><br />
<em>&#8220;Jika dibaiat dua orang, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya&#8221;</em> (HR. Muslim).<br />
8. Nasionalisme merupakan produk manusia, khususnya orang Barat, sedangkan Islam adalah sebuah tasyri&#8217; Ilahy.<br />
Dari beberapa poin tersebut kita dapat memahami adanya kontraversi dalam Islam dan nasionalisme, dan bahkan jika kita mengamati kembali sejarah revolusi atas gereja barat, kita dapat simpulkan bahwa nasionalisme hanyalah sebuah paham yang telah dibuat dengan tangan mereka, yang akhirnya umat Islam menjadi salah satu korbannya. Ide dan paham tersebutlah yang dijadikan senjata utama dalam menguasai umat Islam sehingga terporak porandakan bagaikan potongan-potongan daging di tengah jalan.<br />
Senjata tersebut memang diakui sangat ampuh dalam mencerai-beraikan umat Islam, karena paham tersebut berasaskan kepada sebuah kaidah self-interest (mementingkan kemaslahatan sendiri) atau right of self determinism (menentukan nasib sendiri), sembari berpegang kepada sebuah pepatah farriq tasud. Dengan menanamkan paham tersebut pada negara-negara Islam, maka seiring dengan zaman, setiap dari negara Islam berkeinginan untuk menentukan nasib masing-masing, yang dengan tidak disadari akhirnya khilafah Islamiyah terpecah menjadi negara-negara kecil. Akhirnya kita hanya mendengar orang Mesir berbangga dengan kemesirannya, orang Tunis berbangga dengan ketunisannya, dan lain-lain, dan tidak pernah terdengar lagi seorang muslim yang berbangga dengan agamanya, melainkan mereka bangga dengan kebangsaannya. Sedangkan sejarah Islam telah mencatat Salman al-Farisi sebagai ibnul Islam.<br />
Begitu terpuruknya keadaan umat Islam, sehingga tidak mengherankan jika beberapa ulama sampai menyebut paham seperti nasionalisme sebagai berhala yang selama ini diagungkan oleh umat Islam, Allah swt berfirman:<br />
<strong> )وقال إنما اتخذتم من دون الله أوثانًا مودةَ بينكم في الحياة الدنيا ثم يوم القيامة يكفر بعضكم بعضا ومأواكم النار وما لكم من ناصرين(</strong><br />
&#8221; Dan berkata Ibrahim ’alaihis-salam, <em>&#8220;Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.&#8221;</em> (QS. Al-Ankabut [29] : 25). Berhala pada zaman tersebut adalah patung-patung, sedangkan di zaman ini merupakan paham-paham serta ideologi-ideologi yang telah dicanangkan oleh negara Barat.<br />
Sangat jelas sebab mengapa umat Islam tidak sudi mengorbankan aqidahnya demi kepentingan lain seperti nasionalisme, selain memberikan kesempatan kepada negara Barat untuk menguasai negara Islam, mereka juga tidak menginginkan setiap ukhuwah yang telah terjalin didunia akan berputar 180 derajat menjadi sebuah permusuhan di akhirat kelak.<br />
Di pihak lain, terdapat beberapa ulama yang tidak melihat adanya kontraversi dalam Islam dan nasionalisme, karena Islam memandang kemanusiaan dari setiap manusia, yang berarti bahwa mereka memiliki satu asal-usul yang sama, yaitu manusia, sehingga Islam dapat mencakup dan menerima seluruh komunitas dengan pelbagai macam ras, suku dan agamanya. Allah swt berfirman:<br />
<strong> (ولقد كرمنا بني آدم)</strong><br />
<em>&#8220;Dan Kami telah muliakan bani Adam&#8221;</em> dan ayat tersebut mencakup seluruh manusia tanpa terkecuali.<br />
Mereka juga mengatakan bahwa Islam sebagai agama dapat menjadi reality dengan adanya negeri dan tempat tinggal secara geografis.<br />
Perselisihan ulama dalam masalah tersebut masih mencuat hingga detik ini, sehingga orang-orang pun bingung dalam mendapatkan jawaban yang pasti. Akan tetapi jika kita kembali kepada manhaj dan metode para ulama salaf dalam sebuah masalah yang diselisihkan, kita akan menemukan mereka memiliki tiga metode dalam hal tersebut: pertama, aljam&#8217;u wat taufiq baynal aqwal (menggabungkan kedua pendapat yang bertentangan dan menjadikannya sebuah pernyataan tanpa adanya pertentangan), kedua, attarjiih (memberatkan sebuah pendapat dengan melemahkan pendapat yang lain), ketiga, annaskh (salah satu dari kedua pendapat tidak dianggap wujudnya).<br />
Ketika kita kembali kepada lembaran sejarah yang telah tercatat, ternyata kita temukan sosok seorang ulama yang telah mengikuti metode dan manhaj para ulama salaf, dimana ia mampu untuk menggabungkan dua pendapat yang bertentangan dalam masalah ini.<br />
Dalam khazanah intelektual dan pergerakan Islam, muncul tokoh moderat bernama Hasan Al-Banna sebagai orang pertama yang secara komprehensif dan sistematis membincangkan tentang nasionalisme. Beliau membedakan antara alwathaniyah yang diambil dari wathan (tanah air) dan alqaumiyah yang diambil dari qaum (rasa atau suku).<br />
Alwathaniyyah lebih condong memiliki makna yang berkaitan dengan tempat dan tanah tumpah darah, dengan arti rasa memiliki negeri sendiri, sedangkan alqawmiyah lebih berkaitan dengan orang atau sekelompok orang.<br />
Dengan demikian, nasionalisme yang diartikan dengan alwathaniyyah tidak bertentangan dengan norma-norma agama Islam, sedangkan jika ia diartikan dengan alqawmiyyah sudah tentu ianya bertentangan dengan agama Islam.<br />
Konsep alwathaniyah yang dimaksudkannya berasaskan kepada beberap hal:<br />
1. Nasionalisme kerinduan, yaitu rasa cinta terhadap tanah air, sehingga rasa rindu selalu menggebu dalam hatinya. Dan perasaan tersebut merupakan sebuah fitrah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada setiap manusia, tanpa memandang apakah ia bodoh atau pandai, ia dilahirkan untuk cinta pada tanah air, dan itu tidak dilarang oleh agma. Bukti yang paling kuat dalam hal tersebut bahwa Rasul saw ketika berhijrah ke Madinah, beliau bersabda sembari memandang ke kota Makkah:<br />
<strong> والله إنك لخير أرض الله وأحب أرض الله إلى الله، ولولا أني أخرجت منك ما خرجت</strong><br />
<em> &#8220;Sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik tempat, dan engkaulah tempat yang paling dicintai oleh Allah, kalaupun bukan karena aku diusir maka aku tidak akan meninggalkanmu.(HR Tirmidzi), dan beliau bersabda:</em><br />
<strong> أحد جبل يحبنا ونحبه</strong><br />
<em> &#8220;Uhud adalah gunung yang menyanyangi kami, dan kami juga menyanyanginya&#8221; (HR Bukhari).</em><br />
Begitu juga Abu Bakr dan Bilal ra yang tak terhenti dari melantunkan bait-baitnya karena rasa rindu yang tidak tertahankan ketika berhijrah ke Medinah.<br />
Umar ra berkata:<br />
<strong> لولا حب الوطن لخرب بلد السوء</strong><br />
<em> yang berarti bahwa rasa cinta pada tanah air terdapat pada diri setiap manusia, walaupun tanah airnya gersang dan penduduknya orang-orang jahat.</em><br />
2. Nasionalisme kebebasan dan kehormatan, yang berarti terbebas dari cengkeraman musuh sehingga mendapatkan kehormatannya, hal tersebut merupakan sebuah perintah Islam. Sebagaimana masalah Palestina, dimana hal tersebut merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam, baik yang ada di negara arab ataupun yang berada di Indonesia, sebab Islam tidak terbatas secara geografis.<br />
3. Nasionalisme kemasyarakatan, dimana satu sama lain saling membantu, hal tersebut juga telah digalakkan dalam ajaran Islam. Sejarah Islam mencatat bahwa pertama kali yang dilakukan oleh Rasul saw sesampainya beliau di Madinah adalah menjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, Allah berfirman:<br />
<strong> وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان</strong><br />
Rasul saw juga bersabda: <strong>وكونوا عباد الله إخوانا</strong>.<br />
4. Nasionalisme pembebasan, yaitu membebaskan seluruh negara dari kezaliman, melalui perantara futuhat islamiyah. Karena muamalat dan perlakuan para mujahid Islam telah terbukti keluhurannya dalam kitab-kitab sejarah, disamping itu mereka tidak menginginkan sebuah jabatan atau harta, melainkan demi menggapai ridla Ilahi. Bukti tersebut dapat kita temui ketika kita membandingkan antara perlakuan negara Romawi dengan khilafah islamiah.<br />
Dengan demikian, beliau telah menyatukan nasionalisme dan Islam tanpa ada sebuah kontraversi, dengan cara mengambil sisi positif dari paham nasionalisme yang telah dilahirkan oleh Barat sambil menyesuaikan dan menambahkan norma-norma yang telah dibawa oleh agama Islam, seiring dengan kaidah ushul &#8220;memelihara yang lam yang baik, dan mengambil baru yang lebih baik&#8221;.<br />
Dan jika amati kembali setiap poin tersebut, ternyata semuanya ada dalam ajaran Islam, sehingga dapat kita katakan bahwa nasionalisme merupakan bagian kecil dari ajaran Islam, dan Islam lebih luas dari hanya mencakup sebuah nasionalisme. Tentunya cinta tanah air yang dimaksud dalam hal ini adalah yang tidak berlebihan, karena jika berlebihan dalam hal tersebut, maka akan berbalik menjadi sebuah faham chauvinisme. Allah berfirman: “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Jika bapak-bapak kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu takut akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, – (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai melebihi daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad untuk agamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya; karena Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang Yang fasik (derhaka).”<br />
Allah menyebut lagi dalam surah al-Mujadalah, ayat 22,<br />
“Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang yang menentang itu adalah bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka. mereka (yang setia) itu, Allah telah menetapkan iman dalam hati mereka, dan telah menguatkan mereka dengan semangat pertolongan daripadanya; dan dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka tetap kekal di dalamnya. Allah ridla akan mereka dan mereka ridla (serta bersyukur) akan nikmat pemberianNya, merekalah penolong-penolong (agama) Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya penolong-penolong (agama) Allah itu ialah orang-orang yang berjaya.”<br />
Sedangkan nasionalisme yang bermakna alqawmiyah, Islam telah membuangnya jauh-jauh, kisah cekcok antara aus dan khazaraj merupakan bukti nyata atas perkara tersebut. Hal itu dikarenakan paham alqawmiyah berlandaskan kepada sebuah ashabiyah, dan ashabiyah itu sendiri telah diharamkan oleh Islam. Rasul saw bersabda:<br />
<strong> ليس منا من دعا إلى عصبية وليس منا من قاتل على عصبية وليس منا من مات على عصبية</strong><br />
<em>“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru keoada ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang atas dasar ashabiyyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena membela ashabiyyah”</em> (H.R. Abu Dawud).<br />
“Rasulullah SAW ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena mempertahankan diri dan berperang karena riya. Manakah yang termasuk di jalan Allah? Rasulullah menjawab: Barangsiapa yang berperang untuk menjunjung tinggi kalimah Allah maka ia di jalan Allah.”<br />
Nasionalisme yang dipahami oleh sebagian besar ulama Indonesia –khususnya ulama era kemerdekaan- sesuai dengan ajaran Islam, karena kalaupun perasaan cinta tanah air tidak ada dalam diri mereka, tidak mungkin mereka hendak menjadikan Indonesia yang merdeka dari cengkeraman penjajah. Rasa nasionalisme itulah yang mendorong mereka untuk mengorbankan ruh dan jiwanya demi sejengkal tanah yang telah dirampas. Maka selagi rasa nasionalisme itu masih sesuai dengan ajaran agama Islam dan tidak bertentangan dengannya, maka tidak ada salahnya dalam hal tersebut.<br />
HOS Cokroaminoto berpendapat bahwa Islam sekurang-kurangnya tidak merintangi munculnya nasionalisme, bahkan di satu pihak mendukungnya. Tetapi nasionalisme yang didukung Islam bukanlah nasionalisme sempit yang berbahaya bagi bangsa lain. Nasionalisme yang menuju sosialisme Islam, yaitu sosialisme yang menghubungkan monohumanisme di bawah petunjuk Allah, melalui peraturan-peraturan-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW.<br />
Lebih tegas, KH Abdul Wahab Chasbullah, mengemukakan bahwa <em>“Nasionalisme ditambah bismillah itulah Islam. Kalau Islam dilaksanakan dengan benar pasti umat Islam akan nasionalis.”</em><br />
Sedangkan perbedaan antara nasionalisme barat dan nasionalisme islam berbeda pada pemaknaannya. Kedatangan Barat ke Timur telah memprofil nasionalisme ke dalam beberapa ciri. Di antara dua ciri utamanya adalah; imperialisme dan kolonialisme. Dan, terdapat tiga tujuan imperialisme menurut rencanaan Barat yaitu; misi menyebar ideologi, kebudayaan dan agama, mengeksplotasi sumber ekonomi Timur dan merebut kekuasaan ke sesuatu wilayah. Manakala kolonialisme pula membawa maksud yang lebih komprehensif di mana ia merupakan satu kekuatan menyeluruh; ekonomi, politik, sosial sebuah bangsa untuk menakluki bangsa yang lain di tanah airnya sendiri. Sedangkan nasionalisme Islam bertujuan untuk membebaskan bumi dari segala bentuk kezaliman, tanpa ada tujuan untuk mendapatkan harta dan jabatan, serta membangun sebuah peradaban yang mi&#8217;thaa dalam setiap waktu. Wallahu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ppisyria.com/nasionalisme-dan-slam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

